Catatan Kecil

Home » Mistery » Malin Kundang (Bukan) Anak Durhaka

Malin Kundang (Bukan) Anak Durhaka

Advertisements

PADANG – Siapa yang tak kenal  dengan legenda Malin Kundang dari Ranah Minang, Sumatera Barat. Malin Kundang yang dalam legenda disebut sebagai anak durhaka.

Legenda itu bercerita Malin yang sukses menjadi saudagar di perantauan kembali ke kampungnya di Padang dengan membawa kapal pencalang bersama istrinya yang cantik rupa. Namun saat Ibunya menghampiri, Malin menolaknya. Dia menganggap wanita berpakaian lusuh itu bukanlah Ibunya.
 

 
Marah, sang Ibu pun mengutuk Malin menjadi batu. Batu yang dipercaya Malin Kundang hingga saat ini masih ada di  Pantai Air Manis, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang.

Namun apa jadinya jika Malin sebenarnya bukan anak durhaka. Inilah yang coba dikupas sastrawan Almarhum AA Navis dalam cerpen berjudul ‘Malin Kundang, Ibunya Durhaka’.

Navis bertutur kalau Ibu Malin Kundanglah yang durhaka. Saat itu, cerita Navis, Malin menuduh ibunya sebagai perempuan laknat karena berkawan dengan seorang lelaki yang rela mengawaninya untuk mengharapkan pembagian harta Malin.

Inilah penggalan cerita “Malin Kundang, Ibunya Durhaka,” hal 277-279,  Antologi Lengkap Cerpen AA Navis, Penerbit Buku  Kompas, 2005. Malin Kundang di atas kapal. Kembali   dari rantau. Gagah dan perkasa. Di sampingnya istri  yang cantik jelita, putri raja…” Ketika Malin Kundang hendak turun ke darat,  diiringi oleh istrinya, putri raja, datang berlari ibu  yang renta. Diiringi seorang laki-laki dari kejauhan.  “Malin Kundang anakku, engkau pulang juga akhirnya,’  kata perempuan renta yang berbaju kumal bertambal.”

Secara ekstrem, Navis dalam cerpennya bertanya soal hakikat Ibu. Dia mempertanyakan, kasih sayang Ibu yang tak mungkin akan tega mengutuk anaknya.  Berbeda, kritikus sastra Umar Junus, melihat legenda Malin Kundang dari dua sisi. Malin kata Umar adalah sosok anak yang lupa akan Ibunya karena terlalu silau dengan harta kekayaan.

Situs Malin Kundang Terancam

Kondisi saat batu Malin Kundang saat ini nyaris habis akibat abrasi pantai air manis, meski itu menjadi andalan wisata kota Padang namun peran pemerintah kota Padang masih minim.

“Dua bulan lalu, batu Malin Kundang ini tertimbun pasir akibat deburan ombak sehingga beberapa pemuda yang bekerja disana sebagai jasa photo dan parkir kembali menggali batu Malin Kundang, dari timbunan pasir,” kata Rafles ketua Pemuda Air Manis beberapa waktu lalu.

Sementara posisi batu Malin Kundang beserta kapalnya hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai itupun kalau pasang surut, tapi kalau pasang naik batu Malin Kundang diterjang gelombang laut, sehingga banyak pasir yang menimbun batu tersebut. “Kalau tidak di kelola dengan baik bisa-bisa batu Malin Kundang ini akan hancur akibat terjangan gelombang,” sambungnya.
 

 
[ Recent Posts ] :

Advertisements

| Ingin Berkomentar Atau Meninggalkan Pesan...Cukup Dengan Mengisi Pesan / Komentar, Nama Dan Email Anda Pada Kotak Komentar ini (Pada Kolom/Pengisian Website Bisa Dikosongkan, Bila Tidak Memiliki Website Atau Blog) |...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

[ Daftar Isi ]

%d bloggers like this: