Catatan Kecil

Home » History » Sumpit : Senjata Berburu Khas Masyarakat Dayak

Sumpit : Senjata Berburu Khas Masyarakat Dayak

 

Proses Pembuatan

Satu set sumpit terdiri dari tiga bagian, yaitu batang (pipa) sumpit, damek (anak sumpit), dan telep (tempat damek). Ketiga bagian tersebut dapat dikerjakan secara bersamaan ataupun secara terpisah.
 
Tahap Persiapan

Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat satu set sumpit.
 
Bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah:

Kayu.

Kayu yang digunakan sebagai bahan untuk membuat sumpit bukan kayu sembarangan, tetapi kayu yang kuat dan keras. Adapun kayu yang biasanya digunakan untuk membuat sumpit adalah kayu ulin, tampang, lanan, berang bungkan, rasak, atau kayu plepek.

Setelah jenis kayu ditentukan, selanjutnya menentukan ukuran panjang sumpit yang hendak dibuat. Biasanya kayu dipotong dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2,1 meter tergantung kepada ukuran tinggi orang yang hendak menggunakan sumpit.

Konon, agar orang yang menggunakan sumpit mempunyai kekuatan dalam bernafas sehingga mampu melontarkan damek cukup jauh dan dapat membidik sasaran secara tepat, maka panjang sumpit dibuat sesuai dengan tinggi orang yang menggunakannya.

Setelah itu, kayu dikupas bagian luarnya sehingga membentuk balok dengan ukuran sekitar 10 X 10 sentimeter.

Bilah bambu, lidi aren, atau sirap. Bahan-bahan ini merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya untuk dipersiapkan. Lidi aren yang digunakan untuk membuat anak sumpit biasanya dipilih yang lurus dan tebal (besar).

Tujuannya, agar ketika dibidikkan kesasaran dapat melesat dengan cepat, tepat, dan mampu menembus (melukai) sasaran. Demikian juga dengan sirap dan bilah bambu.

Bahan racun.

Pada zaman dahulu, bahan racun merupakan salah satu bahan yang cukup penting dalam pembuatan sumpit. Keberadaan racun cukup efektif untuk melumpuhkan atau membunuh sasaran. Racun yang dipersiapkan merupakan campuran dari beberapa bahan, seperti getah kayu ipuh, kayu siren, atau upas, dicampur dengan getah kayu uwi, ara, atau getah toba.

Masyarakat Dayak juga mempunyai pengetahuan dalam memilih tumbuhan yang mengandung racun kuat ataukah tidak. Pohon ipuh, misalnya, secara alami memang mempunyai getah beracun, tetapi tingkat kekuatan racunnya berbeda-beda tergantung pada kondisi pohon.

Pohon yang ipuh yang “tumbuh sendiri” (tidak berkelompok) mempunyai kekuatan racun lebih kuat dari yang berkelompok. Penyadapan getah pohon biasanya dilakukan pada musim kering. Untuk memperkuat efek racun, getah pohon itu biasanya dicampur dengan bisa binatang, seperti bisa ular.

Besi tajam (lonjo atau sangkoh).

Bahan yang diikatkan pada ujung pipa sumpit ini merupakan senjata cadangan jika damek tidak dapat melumpuhkan hewan atau musuh secara langsung, tetapi malah menyerang balik. Dengan adanya lonjo ini, maka si penyumpit masih mempunyai senjata jika harus bertarung dalam jarak dekat.
 

Pages: 1 2 3 4 5


| Ingin Berkomentar Atau Meninggalkan Pesan...Cukup Dengan Mengisi Pesan / Komentar, Nama Dan Email Anda Pada Kotak Komentar ini (Pada Kolom/Pengisian Website Bisa Dikosongkan, Bila Tidak Memiliki Website Atau Blog) |...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

[ Daftar Isi ]